Sunday, September 1, 2013

Setelahnya Akan Biasa Saja

Waktu itu aku bangun disaat bulan masih menyinari malam. Tapi aku harus bangun, banyak hal yang harus aku kerjakan selain mengambil air wudhu untuk sholat. Hari itu aku harus mengambil kayu, karena akan ada hajatan di rumah. Tapi aku harus mandi dulu. Ketika aku akan mengambil air, aku lihat air tidak mengalir, bambu yang menjadi aliran air aku sentuh bagian dalamnya juga kering. Menandakan tidak ada air yang melewatinya. Pilihan saat itu adalah kembali ke rumah, menunggu bapak bangun sejam lagi dan menunggu beliau untuk membetulkan aliran air dengan konsekuensi aku tidak mengambil kayu dan ini akan banyak menyita waktuku nanti di siang hari, juga aku juga pasti akan meninggalkan solat karena saat bapak terbangun waktu subuh sudah menjadi waktu dhuha. Pilihan kedua, atau aku mengambil parang naik ke bukit melihat aliran airnya bagian mana yang putus dan bambu mana yang terputus, dengan konsekuensi mungkin akan ada babi hutan atau makhluk apa saja itu yang akan menikam atau berjalan-jalan disampingku, namun dengan begitu aku akan membuat air mengalir, bisa sholat dan bapak tidak perlu naik-naik ke atas. Aku juga bisa melanjutkan pekerjaanku mencari kayu. Pilihanku? Waktu itu aku memberanikan diri untuk mengambil opsi yang kedua.


Di waktu yang lain, sedang diberikan tanggung jawab untuk mengerjakan sesuatu oleh dosenku. Ada beberapa metode yang harus aku temukan. Ada banyak analisa yang harus aku pertimbangkan, ada banyak jurnal yang harus aku baca. Deadline tiap satu hari harus ada progress. Jika ada kesalahan, harus diperbaiki hari itu juga, detail kalimat, perhitungan, rumus dan analisa harus tepat. Jika salah lagi, ulangi dari awal.  Berangkat harus sangat pagi supaya bisa mendapat giliran pertama bertemu beliau dan segera mengerjakan progres yang diberikan. Pulang harus lebih larut karena data yang aku kerjakan sangat penting, ditunda pun juga tidak ada gunanya. Hitung-implementasi-evaluasi. Jika error lagi, ulang dari awal sesuai evaluasi tadi, jika benar lanjut ke progress selanjutnya. Begitu terus perputarannya. Taruhannya bukan antara ketakutan akan sesuatu atau kekurangan atas suatu nilai akhir. Namun bertaruh atas kemampuan diriku menerima tantangan, bagaimana aku harus menang bertaruh atas diriku sendiri
Ternyata satu bulan, satu tahun, dan satu tahun sesudahnya dan satu tahun berikutnya, taruhan atas kemampuan diriku ini menjadi karakter yang melekat atas tanggung jawab yang aku kerjakan. Sampai sekarang.

Waktu-waktu yang lain juga mengajarkanku banyak hal. Termasuk bagaimana melewati tantangan yang sulit, tantangan yang bertolak belakang dengan kemampuanku dan juga tantangan yang membutuhkan pembuktian. Di paragraf pertama, semenjak kejadian itu aku lebih berani bangun pagi untuk mencuci dan mandi lebih awal supaya kegiatanku bersama murid-muridku bisa lama, dan pekerjaan rumahku cepat selesai. (The Story when I was in Sangihe, 2011-2012). Paragraf kedua adalah ketika kuliah. Secara tidak sadar, dosenku mempermainkanku dengan cara yang waktu itu aku rasa "jahat" namun aku rasakan impactnya yang membuatku menjadi kebal akan banyak tugas. Mengeluh? Pasti! Tapi kata dosenku dulu, "mengeluhlah seperlunya, setelah itu kerjakan pekerjaanmu biar cepat selesai, karena mengeluh tak akan menyelasaikan apa-apa." Sekarang, dengan apa yang sudah aku alami dan bisa kulewati setelahnya akan biasa saja.
Bagiku, kekhawatiran melakukan sesuatu adalah bagian diskusi batin yang jika kau tak melakukannya, kau tak akan tahu hasil akhirnya
Aku bukan sedang mengerjakan sistem kebut semalam untuk menulis di bulan ini. Ini adalah bagian pembuka aku harus istiqomah untuk menulis. Gaya tulisanku sudah banyak menjadi kaku, sense of menulisku sudah banyak digantikan oleh laporan ilmuah atau report kantor yang isinya terlalu formal. Aku banyak belajar, namun tidak banyak belajar dari kedisiplinan menulis.Susah memang untuk memulai sesuatu yang sudah lama tidak teratur. Namun, jika tidak dimulai akan sama saja. Setelah bisa melewatinya, maka selanjutnya akan biasa saja bukan? Bukannya kamu sudah biasa tertantang oleh sesuatu? Dari orang lain? Kalau ditantang oleh dirimu sendiri, apakah kamu sudah pernah memenangkannya?

Belum.
Dan akan.
Setelah ini.



Selamat datang September nan ceria,
~F

Sebenarnya Hanya Butuh Waktu

Akhir-akhir ini aku menulis hanya karena butuh saja, atau karena ada sesuatu yang ingin aku tulis. Namun, sepertinya lebih banyak dipaksa untuk menulis. Tapi kalau tidak dipaksa juga, aku ngga akan menulis juga. Maksudnya adalah nulisnya semau-maunya saja. Jarang nulis yang agak serius. Banyak ide yang berkecamuk di kepala, pengen nulis, tapi ujung-ujungnya selalu memilih tidur atau membaca dibanding nulis. Jika sudah membuka laptop lebih banyak membuka situs lain dibanding untuk menulis. Sudah ada target menyeimbangkan membaca dengan menulis, namun tetap belum bisa disiplin. Lebih banyak memilih mengecak whatsapp dan larut dalam perbincangan juga akhirnya memilih Plants vs Zombies 2 dibanding menulis. Mungkin aku harus dipaksa untuk punya deadline menulis ya biar istiqomah. Melihat angka posting dari tahun ke tahun yang jumlahnya berkurang sebenarnya juga menyedihkan. Apakah benar, semakin banyak kegiatan dan kesibukan, kuantitas dan kualitas menulis kita akan menurun? Buktinya aku sih :D Tapi tidak bermaksud menjeneralisasikan itu. Aku saja yang belum bisa berdamai dengan manajemen waktu.
Iya, sebenarnya hanya butuh waktu.



Bukan hanya menulis yang membutuhkan pembagian waktu dalam hidup. Banyak waktu yang aku bagikan terutama untuk pekerjaanku yang membutuhkan ke-profesional-anku. Dan banyak waktu yang aku luangkan untuk kegiatan lain yang menurutku sangat membantu untuk melunakkan ke-ego-an ku. Namun kadang, "me-time" untuk menulis dan menyendiri dinomerlimakan. Aku butuh waktu untuk memikirkan hal yang pribadi (please dont blame it as "marriage") dan hal yang kurang penting. Misal, ngobrol hal yang  ngga serius dengan teman, nonton film, karaoke. Minimal, once in month. Please dont be so serious Furi, while you can't manage your life seriously :D, dont be so Furious. Hahhaha, actually I just need a time. Aku hanya butuh waktu saja.


Wednesday, August 28, 2013

Something that Changes me :)

Di tengah segala informasi yang diberitakan di media ataupun dimana itu, banyak orang yang menanyakan dan menyangsikan reputasi dan kemampuannya. Saya sudah tahu dan untungnya saya sudah terlanjur percaya.

Furi,
Cerita yang luar biasa. Saya membaca pelan2. Ini bukan sekadar cerita, ini sebuah narasi perjuangan.

Mencari solusi itu sering amat berbeda dengan menciptakan solusi. Yang Furi kerjakan ini adalah menciptakan solusi.

Furi pilih jalan yang mendaki. Itu pilihan orang2 pemberani. Ini akan melelahkan, akan menyedot energi. Tapi Furi amat tahu bahwa semua pendakian itu ada puncaknya. Soal waktu saja kapan akan tercapai dan terlampaui

You are young, full of energy; a bright future is before you. Stay the course, keep trying, keep fighting. You will reach your goals; yes, you will reach your goals . . .
Atau penjelasan beliau mengenai ini,
Assalamu'alaikum wr. wb.

Furi yang baik,

Semoga email ini menemui Furi dalam keadaan sehat wal afiat. Lewat email ini, izinkan saya -sekali lagi- menyampaikan rasa penghargaan dan apresiasi atas kerja Furi selama ini.

Saya baru selesai menghadiri beberapa conferences dan pertemuan di London dan di Washington. Pertemuan tentang pendidikan, tentang  peneliti/scholar asal Indonesia yg bekerja di LN dan tentang komunitas Indonesia.

Pertemuan2 itu tidak ada yang terkait langsung dengan kegiatan Indonesia Mengajar, tapi di sana semua menanyakan kabar Pengajar Muda. Mereka menitipkan salam. Mereka sudah baca cerita tentang kiprah Pengajar Muda, cerita Furi.

Semua merasakan bahwa mereka melihat Indonesia kita dengan semangat baru, dengan rasa optimis dan tanpa sinisme. Sebagian menyampaikan apresiasi atas kerja Furi dan semua Pengajar Muda sambil matanya mencermin karena ada air yang mengambang.

Saya merasa harus langsung meneruskan salam, dan menyampaikan perasaan mereka semua pada Furi. Di pesawat dalam perjalanan pulang ini saya tulis email ini. Furi mungkin saja menganggap bahwa yang Furi lakukan itu lumrah, bukan luar biasa. Ya, memang lumrah tapi kelumrahan itu membawa efek yg luar biasa.

Izinkan saya sampaikan dengan rasa hormat bahwa kiprah, kerja dan cerita Pengajar Muda telah ikut menginspirasi mereka dan membuat mereka makin yakin bahwa di tanah air tercinta ini masa depan republik ini akan cerah untuk semua. Seorang ekonom asal Indonesia yg bekerja di lembaga terkemuka dunia menulis dalam emailnya sesudah kita bertemu, " . . . reminding me of how great is our people, our nation"
Furi bukan hanya hadir di desa, kehadiran itu menggandakan semangat di berbagai tempat secara luar biasa.

Di berbagai kesempatan saya bertemu dng anak-anak bangsa yang juga peduli dengan tanah air-nya. Mereka sekarang sedang bekerja di tanah yang amat jauh dari Nusantara. Ada yg ilmuwan, ada profesional bisnis, atau ada yg bekerja di institusi multilateral.

Mereka semua memiiliki kompentensi tinggi, standard profesionalisme yang tinggi. Saat berdiskusi dengan mereka, saya sering merasa sedang menatap wajah masa depan para Pengajar Muda. Di wajah mereka saya melihat diri Furi dan para Pengajar Muda. Saya membayangkan Furi sekarang berada di desa yg mungkin jauh dari fasilitas hidup yg serba canggih. Hari ini Furiberada di pelosok sana walau potensi kompetensi Furi sama dengan mereka tapi saya yakin kelak Furi dan Pengajar Muda semua akan bisa ikut menentukan "arah" baik di tingkat nasional bahkan dunia.

Saya berharap, InsyaAllah, Furi akan terus mengembangkan diri agar bisa memiliki the world class competence. Yang membedakan Furi and your fellow Pengajar Muda dengan mayoritas anak-anak muda berkompetensi tinggi itu adalah grassroot understanding plus berderet pengalaman dinamis sebagai pengajar muda di berbagai wilayah nusantara.

Saya tengok pemandangan luar lewat jendela pesawat, di tengah malam di atas pegunungan dekat Diyarbakir, yang nampak hanya gulita. Saya bayangkan tebaran bintang malam adalah kawan sehari-hari Furi. Bintang-bintang itu memancarkan sinar walau kecil tapi indah: memancarkan harap untuk semua. Furi dan semua Pengajar Muda seperti Bintang itu, memancarkan harapan baru.  Harapan itu tumbuh bukan saja di desa tempat Furi mengabdi tapi juga di belahan lain dunia, harapan ternyata itu turut tumbuh kuat. 

Jaga stamina Furi, dan jaga diri baik-baik. Tetap memancarkan semangat, tetap jaga ketulusan. Hitungan jarak geografis kita mungkin jauh, tapi hitungan simpul ikatan hati kita dekat dan semangat kita selalu dekat, sangat dekat. InsyaAllah, kita bisa segera berjumpa dan mendengar semua cerita dari dekat.

Salam hangat dari tanah jauh.

Salam,

Anies Baswedan


cukup kan?
Atau kalian punya tambahan?

Tuesday, August 27, 2013

Quote from "Outliers - The Stories of Success" Book




Just finished read this book. And I found something good to share. Its about how Malcolm Gladwell wrote his research and his thought. Before he wrote Outliers, he also wrote the first book The Tipping Point, and second is Blink. Will review it later ya :D




One of the commentator of this book said,

"The lessons of this book can be put into a brief sentence: success depends on a series of cultural and other factors that are mostly beyond your control – however, the thing that is totally within your control about success is how much effort you put in. And the more effort you put in the more likely you will be successful. They are directly proportional and we should all praise work as the key thing that really makes us human."

I do agree with that. In this book he conclude one thing and I only nodding when I read the sentence "Practice isn't the thing you do once you're good. It's the thing you do that makes you good". Then he continued in other story, “It is those who are successful, in other words, who are most likely to be given the kinds of special opportunities that lead to further success. It’s the rich who get the biggest tax breaks. It’s the best students who get the best teaching and  most attention. And it’s the biggest nine- and ten-year-olds who get the most coaching and practice. Success is the result of what sociologists like to call “accumulative advantage.” 

Again, I re-read that sentence then make an underline under the statement as a stars, but I stopped at "accumulative advantage". How can he define the accumulative advantages? I agree. Totally agree. But I have second opinion, success for me is not only accumulative advantage, it is increment of big effort, serious intention, hardy and never give up to try more and more also the-x factor. What is the-x factors? Its God's hand and plans. Success for me is easy to spell rather than to do. Then he continued


“...If you work hard enough and assert yourself, and use your mind and imagination, you can shape the world to your desires. (151)”  HAHA, RIGHT! :D

And last sentences I stared is "It's not how much money we make that ultimately makes us happy between nine and five. It's whether or not our work fulfills us. Being a teacher is meaningful."

We are born to be student in every period. And in other period, we also be a teacher, because life is matter of  sustainability of life progress. To learn and to be learned. To teach and to be thought.


Furi

What is "information" Stand For?

This morning I'm lost in Professor Shuichi Sakai's website. He told great messages in his manuscript for graduate students candidate who want to enter the University of Tokyo, Information and Science Technology. Here what he said

Nobody doubts that “information” is the key word of modern society. For many, “information” simply means the computer or the internet. There are others who may think of robots, smart phones, video games, and animation.

Seventy years have passed since the world's first computer. It has only been seventy years, but during this time, information science and technology have improved drastically. Along with these developments in science and technology, our society has become what is called an “information-oriented society.”

The Graduate School of Information Science and Technology at the University of Tokyo is the place to study and research “information” related science and technology. Although our graduate school is somewhat small, with only 170 regular faculty members and 700 students, there is a wide variety of research fields and research methods being implemented in a free atmosphere where progressive spirits can thrive. Of course, we also all feel proud that the education and research offered at our graduate school is of the highest caliber in the world. Computer, communication, media, mathematical informatics, control theory, robotics, artificial intelligence, bio informatics, information security - every field is full of fascination, and we try to create a new field every year. At the same time, we continue to take on many new challenges, such as new education programs, international coordination, and facilitating cooperation between education, industry, and government.

“Information” has the power to change our society through things that are familiar to us, such as our smart phones and social media. There are so many great things about this kind of information technology - people’s transmitting power increases, communication between people far apart becomes possible, the distribution of things and affairs becomes better, promoting disaster prevention and assisting in rebirth from disaster becomes more effective, support for music and screen image art becomes stronger, and much more. However, there are also drawbacks to its increasing availability, such as privacy violations, copyright infringement, cyber attacks, and internet bullying through clandestine school portal weblog sites. It has brought out both light and dark in our modern society. Some people can only see information science technology this way.

I myself think that “information” is very important and has the power to improve society from an even deeper place than people can now imagine. Society right now is exhausted due to excessive economic competition and materialism. Information Science and Technology must exist in order for this battered society to transform into something brighter for the well-being of humankind. Is this really possible? Now is the time to apply ourselves to study and research in order to test our wisdom in our pursuit of information science and technology.
Well, for me its like open my mind again to define what is communication stand for and derived from where. From the beginning I chose Telecommunication science and then become telecommunication engineering is because telecommunication is the basic knowledge itself. But after I read his pronounce, I do agree- basic knowledge of telecommunication is to deliver the information from one to other with all the technology and applied it into many device. And I conclude, basic form of telecommunication is information itself.

Tought?

Furi