Showing posts with label feelin'. Show all posts
Showing posts with label feelin'. Show all posts

Tuesday, September 24, 2013

What is Luck? And What is Hard Work?



Long ago, my mom always said, the way to get a "luck" is with pray regularly, help others, pray for others also doing good things, then she continued, "From that, luck will be surround you". I just nodding my head when she said that and of course believe all what my mom said
But yesterday, one of my friend said something about luck. "Luckily Fur, I not believe in Luck. There is nothing about luck, it is only daily live cycles. People fail then success, or at first people afraid but after that they become brave and many people hate but then become love. If you pray and then you get your luck easily from pray, so it is the answer from your pray, not even the Luck factor, right? So what is Luck? Luck is nothing, is just man-terminology"

Is that so?

Then she continued, "for example when you have a test. A Very hard test. I am sure you will prepare well if you wanna pass the test, right? Then maybe you take private lesson, practice everyday, and ask your teacher, mentor and so on. Then after the test is done, luckily you passed. Is that because of your luck? No! It is about your hard work"

Readers, I just listening, without left any comment. And smiling of course :)

Then she adds the last sentences, "Oh wait, it is not end yet Fur. I am sure you will blame, how if you failed? (actually I'm not blaming :p) If you failed, I am sure it is only life cycles because there something mysterious thing that will push you to get your success. After receive happily life because of luckily success, you must accept bitter sad life from luckily failure. It is fair way to keep your life balance. There is no luck factor Fur."

Hmmh.. Is that so? Who control the success and failure, sad and happy? Our self, not the luck, right?

Again she continued her thought, "Like Thomas Jefferson said, the harder I work the more luck I seem to have"

I am so much appreciate with her creative thinking. Either my mom and my friend is true. I am believing in luck factor also hard work, and for me both of them is different. How to get your luck is all about the way you act and how is your faith about God feelings. Whereas hard work is the way to get own better capacity life, maximum effort and eager to stand up after fail.

Quoting from Chairil Anwar,"kerja belum selesai, belum apa-apa. Sejatinya, jalan masih panjang dan tidak ada yang bisa menjamin Anda akan lolos hingga tahap akhir. Meski demikian, kita juga percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan Anda tidak akan diterima. Kita yakin, nasib akan berpihak pada para pejuang yang berani. Mari kita siapkan diri, mari berjuang dengan berani menyelesaikan penggal terakhir yang pastinya tidak mudah ini."

So, what is Luck in yours? And how about hardwork?

~ Afternoon in office, when everything seems fatigue

~F

Thursday, September 12, 2013

Saya tidak Sendiri

Kamis adalah hari pertengahan. Pertengahan menuju weekend dan pertengahan mengejar deadline. Hampir seperti itu.

Kata seorang teman aku adalah yang pengeluh. Really?

Dengan banyak hal yang harus kulakukan, dengan kebanyakan rencana yang harus aku tuntaskan juga banyak janji yang harus segera ku tepati, sepertinya aku begitu cepat melewati jam 8 to 8 a day. Dan kadang setelah office hour banyak kegiatan lain yang aku lakukan bisa saja mendarat di kasur jam 11 atau jam 12 malam. True. This is my choice and I decide this. So accept all the consequences and stop complaining. Tapi masa ngga boleh ngeluh? #nawar

Dalam setiap hal, aku yakin Yang Maha Kuasa selalu menegurku dengan cara yang amat sederhana. Pagi ini contohnya, ketika aku duduk di atas ojek menuju kantor, aku memandang sekeliling dan melihat bosku yang berjalan kaki dari stasiun sudirman menuju kantor. Padahal aku tahu dia pulangnya lebih larut dibandingku namun berusaha datang lebih pagi naik kereta dan berjalan kaki menuju kantor.
Mungkin beliau tidak mengeluh atau tidak ketahuan mengeluh, karena baginya itu adalah kewajiban yang dia emban. Namun, kenapa aku tak berpikiran yang sama?

Ternyata aku tak sendiri. Everyone's perfect and in-perfect in very unusual way. Banyak orang yang aku rasa juga mengalami kelelahan yang sama,  kejenuhan akan rutinitas, namun kepada siapa mereka mengeluh?

Menurutku, orang mulai mengeluh ketika bersama orang yang dirasa nyaman. Dan aku yakin, aku tak sendiri mengalaminya.


~F

Sunday, September 8, 2013

Simple Happiness

Bahagia itu sederhana. Katanya.



Tapi memang benar.

Bahagia itu bisa hadir pada secangkir kopi hangat sambil membaca berita dan melihat update cerita baru di koran atau social media. Kadang tertawa, bingung, diam dan ya sekedar tahu saja :D

Atau simple happiness itu bisa hadir pada sebuah SMS, "selamat kamu mememangkan kuis Sudoku edisi #39 dan berhak mendapat hadiah 300 ribu rupiah." Sepertinya bukan nominal yang didapatkan, tapi mengisi kotak 3x3 dengan cepat dan benar lalu bisa menyingkirkan ribuan pengirim itu menyenangkan (dasar otak kompetitif)

Dan bahagia kecil dan syukur melimpah itu bisa muncul dengan mendengar kabar dan bertemu orang yang kita sayangi dan  mereka berkata ,"aku sehat, kamu bagaimana?"

“People are just as happy as they make up their minds to be.”
Bahagiamu yang sederhana apa?

~F

Friday, September 6, 2013

Jump Jump!

Tidak seperti biasanya, aku tidak semangat ke kantor hari ini. Tadi pagi aku sempat posting di grup, jam 8 pagi aku masih goler-goler di kamar dan menuliskan di twittter, "I wanna jump up into Saturday". Minggu ini sangat padat dan banyak sekali pekerjaan. No, I am not complaining, tapi memang pengen sekali rehat.

Setelah ku reka-reka kenapa aku cepat lelah, mungkin karena aku seminggu ini tidak melakukan hal yang aku suka. Kebahagiaan kecil yang biasa aku lakukan untuk memulai minggu dan mengisi sela-sela minggu. Seminggu aku absen ber-sosialita, jarang baca buku, jarang ngopi dan sudah 2 bulan tidak bermain sudoku, tidak bertemu teman-teman, tidak saling tukar cerita. Sigh... So sad :(((

Pagi kerja-siang kerja-malam lembur-pulang tidur. Life is never flat kalo kata Chitato, and thats true, Flat life is so pain, walhasil emang weekend ini akan menjadi puncak pembalasan dendam untuk tidur dan membabu hara.

Well lets see

F

Tuesday, September 3, 2013

10 Hal yang orang-orang menyangka itu (Bukan) saya

Ternyata banyak orang yang pertama kali bertemu denganku menyangka aku ini itu. Atau yang sudah kenal akrab begitu lama juga kadang menyangka Furi ini ternyata seperti ini dan itu. Tulisan ini terinspirasi oleh seorang kawan yang menuliskan hal yang sama, dan aku juga tertarik untuk menuliskannya. Mendengar tanggapan mereka seperti "Masa sih kamu gitu?" atau "Itu kamu? Oh ya? Beneran?" atau juga "Aku kira kamu itu..." secara garis besar seperti ini :D



1. I am an Engineer
Believe it or not, aku adalah seorang teknisi. Aku menyebut demikian bukan berarti aku senang membubut atau mendongkrak atau juga hal yang berhubungan dengan otomotif. Tapi lebih pada pekerjaan utamaku sekarang adalah seorang engineer dan memang menyukai dunia per-teknik-an baik itu yang software maupun hardware, walaupun dalam wujud di luar aku lebih sering terlihat sebagai publik sosial. "Oh, jadi kamu kerja sebagai teknisi? Dimana?" or "Kamu ngga kelihatan tuh sepertinya kalau sepertinya seorang teknisi"

Well, sebenarnya aku lebih senang diberi seperangkat toolbox yang berisi obeng, skrup, palu, kabel, avometer, timah dan soder, dibanding seikat mawar merah. Eeeuw...

2. Aku Suka Baca dan Menulis
Terdengar seperti anak SD ya. Tapi gegara banyak yang sudah tahu pekerjaanku dan sering terlihat bersosialita dibanding diemnya, atau kerja larut malam di kantor dibanding nganggur di kosan, lebih sering ngobrol dibanding keliatan baca atau mempublish tulisannya dimana-mana, orang selalu beranggapan aku ngga tau menahu soal buku dan tidak paham tentang menulis. Bahkan ketika secara tidak sengaja seorang teman mampir ke rumah ada yang bertanya, "ini bukumu semua? sejak kapan kamu suka baca?" Errrrrr...
Ada yang bilang baca dan menulis tidak boleh dimasukkan ke dalam kategori Hobi. Bagiku, baca dan menulis bukan hanya hobi, tapi sudah menjadi candu.  Minimal dalam sebulan aku harus membaca satu karya, entah itu kata orang bagus yang kadang kataku biasa saja. Atau sebaliknya. Aku menargetkan diriku sendiri minimal sebulan aku harus tuntas membaca 1 buku Indonesia 1 buku berbahas Inggris. Aku juga tidak serta merta mengaitkan segala hal yang aku baca dengan cara pandang yang sama, dengan buku  lain yang aku baca. Aku lebih senang membacanya saja menuliskan review dengan nama samaran, namun jika ada yang tanya tentang buku itu aku segera bisa bercerita.

Aku termasuk orang yang kompetitif dalam membaca dan menulis. Ketika orang selesai membaca buku A misalnya, dan aku tidak mempunyainya, maka bisa dipastikan bulan selanjutnya buku itu ada di listku dan dan ada reviewku di goodreads, sehingga aku bisa membaca apa yang orang lain baca. Bahkan setiap bulan aku punya anggaran khusus untuk membeli buku. "Serius, Furi?" Answer : "Yes, I am"

3. Aku Memilih Tenang dalam Keramaian 
Aku tidak suka ribut. Aku lebih senang cari aman. Aku lebih sering menerima setelah berdebat panjang. Aku lebih senang mendengarkan dan harus atas kemauan sendiri atau paksaan jika harus berhadapan dengan khalayak ramai. Aku bukan orang yang vokal jika memang sedang tidak dibutuhkan.

Aku ramai jika dalam suasana santai. Aku ramai jika dalam suasana bercanda. Percayalah aku selalu memilih tempat yang sepi untuk duduk sambil menyeduh kopi daripada harus melihat konser atau tempat kerumunan orang yang bahkan aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Bahkan pada satu saat aku punya waktu untuk melakukan "self entertain" dimana aku melakukan hal yang aku suka sendirian.

Banyak orang yang dengan mudah mendeskripsikanku "Furi itu orangnya rame banget."  Tidak. Bergantung

4. Aku (tidak) Jutek
Dalam seperempat abad aku hidup, bisa dibilang 12,5 tahun orang beranggapan aku orang jutek pada pandangan pertama dan menyalahkan pendapatnya sendiri pada pandangan kedua.
"Duh, aku kira kak Furi itu jutek banget, ternyata.."
"Bu Furi, saya kira Anda tidak bisa bercanda.."
"Gw kira itu lo orangnya susah diajak guyon Fur.."
so on..

Believe me, sudah lama aku belajar untuk selalu tersenyum pada pandangan pertama, yang kadang juga banyak khilafnya. Sudah bawaannya, tapi akan kubiasakan untuk lebih rileks. Aku serius dan santai pada waktu dan tempatnya.

5. Pengguna Celana dan Tas Ransel
Bukan berarti aku tidak suka memakai rok dan tidak mempunyai tas selempang. Jumlah rok dan celanaku di lemari bisa dikatakan sebanding, begitu pula jumlah tas ransel dan tas selempangku. Namun, atas kenyamanan dan keamanan kebutuhanku, aku lebih suka memakai celana dan tas ransel. Itulah mengapa orang lebih sering menganggapku seorang yang tomboy, dibanding orang yang feminim.
Tapi apa iya, pembeda tomboy dan feminin hanya dilihat dari bawahan dan bawaan?

Jika ada yang bilang, "Tumben pakai rok?" berarti dia memang tidak begitu mengenalku.

6.  Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga
Banyak orang yang menyangsikanku melakukan kegiatan rumah tangga, seperti memasak, menyapu, mengepel, mencuci,menjahit, menyeterika, berkebun, pergi ke pasar tradisional. Dikarenakan mungkin saya terlalu sibuk.

Ketika libur saya bisa menghabiskan hari hanya di rumah dengan membersihkan kamar, mengubah tata letak, merapikan, mencuci, dan memasak apa yang bisa saya makan. Bisa dibilang, jika pusing aku akan melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku sangat selektif dalam mencuci baju, mana yang harus aku cuci sendiri, mana yang bisa dicuci dengan mesin. Tata letak kamar yang berubahpun aku sangat tahu.

Jadi, jika "sibuk" menghentikanku untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, apakah aku sanggup untuk membayar segala kompensasinya? :)

7. Berdandan dan Berpakaian Modis
Aku mempunyai peralatan make up dari atas rambut sampai bawah yang lengkap. Aku juga memakai parfum. Mempunyai berbagai kuas, blash on, tutorial berhijab dan make up lengkap. Pernah ikut kursus kecantikan juga senang mendesain pakaianku sendiri seperti blazer, baju pesta dan memilih kain yang sesuai dengan karakterku. Memadu padankan mana yang cocok mana yang pas.

Namun kenapa sering terligat tidak berdandan dan terlihat tidak modis? Jawabnya : itu bukan suatu keharusan. Jika setelah wudhu aku harus re-touch lagi itu bisa memakan waktu setengah jam. Lagian tampilan berdandan disaat kerja membuatku tidak tenang. Kadang jika ada orang yang sedang mengajak bicara tidak memperhatikanku malah memperhatikan hal yang lain, membuatku merasa resah dan tidak nyaman.
Maka aku cukup mengenakan yang secukupnya bagiku di wajah, yang cukup menjaga nikmat yang Dia berikan. Berpakaian, dengan berpaikaian yang nyaman bagiku

Pengen tahu kapan aku harus dandan dan pakaian modis? Datang ke pesta pernikahan. (Itupun juga biasa saja :D )

8. Menangis
Orang menyangka dengan proporsi badan yang begini besar dan raut wajah yang ngga juga unyu, aku susah untuk menangis. Jangan salah. Justru sebaliknya. Aku orang yang tidak tegaan. Sedikit sedikit mudah haru dan akhirnya menangis. Kadang nangisnya sampai sesenggukan.

Dan pada suatu kondisi aku sangat rapi menyembunyikan tangis supaya terlihat sedikit tegar.

9. Mengatakan "apa kabar", "I miss you", "I love you"
Jika dalam salah satu pembicaraan atau pertemuan , aku sering bertanya apa kabar atau "How I miss you so bad" That's really what I feel and what I wanna tell. I wanna know your tidings, and I wanna know how much you miss me :)
Begitu juga dengan I love you.

If I say I love you. I mean it. It is the only word I wanna tell, and I don't expect the feedback or need the response then. I only wanna say it :)

10. Pernah menjalin hubungan dengan cinta
Dengan berkali-kali orang menanyakan kapan menikah dan siapa pacarmu, bagaimana tipemu, atau dengan guyonanku yang mengagumi lelaki, bukan berarti aku tidak pernah menjalin hubungan cinta, atau bahkan menyangka aku tidak pernah jatuh cinta.

Jatuh cinta membuat hidupku seimbang. Tapi sekarang aku dalam tahap menjaga dan memperbaiki diri. Percayalah, jatuh cinta menjadi salah satu doa di setiap sujudku supaya dipertemukan dengan yang tepat dan waktu yang tepat.

Apapun itu misteriNya. Aku tidak pernah menolak untuk jatuh cinta dan menjalin dengannya. Hanya tak pernah kuutarakan.


That's from me. How about you?

~F

*photos from google

Sunday, September 1, 2013

Sebenarnya Hanya Butuh Waktu

Akhir-akhir ini aku menulis hanya karena butuh saja, atau karena ada sesuatu yang ingin aku tulis. Namun, sepertinya lebih banyak dipaksa untuk menulis. Tapi kalau tidak dipaksa juga, aku ngga akan menulis juga. Maksudnya adalah nulisnya semau-maunya saja. Jarang nulis yang agak serius. Banyak ide yang berkecamuk di kepala, pengen nulis, tapi ujung-ujungnya selalu memilih tidur atau membaca dibanding nulis. Jika sudah membuka laptop lebih banyak membuka situs lain dibanding untuk menulis. Sudah ada target menyeimbangkan membaca dengan menulis, namun tetap belum bisa disiplin. Lebih banyak memilih mengecak whatsapp dan larut dalam perbincangan juga akhirnya memilih Plants vs Zombies 2 dibanding menulis. Mungkin aku harus dipaksa untuk punya deadline menulis ya biar istiqomah. Melihat angka posting dari tahun ke tahun yang jumlahnya berkurang sebenarnya juga menyedihkan. Apakah benar, semakin banyak kegiatan dan kesibukan, kuantitas dan kualitas menulis kita akan menurun? Buktinya aku sih :D Tapi tidak bermaksud menjeneralisasikan itu. Aku saja yang belum bisa berdamai dengan manajemen waktu.
Iya, sebenarnya hanya butuh waktu.



Bukan hanya menulis yang membutuhkan pembagian waktu dalam hidup. Banyak waktu yang aku bagikan terutama untuk pekerjaanku yang membutuhkan ke-profesional-anku. Dan banyak waktu yang aku luangkan untuk kegiatan lain yang menurutku sangat membantu untuk melunakkan ke-ego-an ku. Namun kadang, "me-time" untuk menulis dan menyendiri dinomerlimakan. Aku butuh waktu untuk memikirkan hal yang pribadi (please dont blame it as "marriage") dan hal yang kurang penting. Misal, ngobrol hal yang  ngga serius dengan teman, nonton film, karaoke. Minimal, once in month. Please dont be so serious Furi, while you can't manage your life seriously :D, dont be so Furious. Hahhaha, actually I just need a time. Aku hanya butuh waktu saja.


Monday, August 19, 2013

Sepenggal Ucapan Untukmu, Indonesia



"Apa saja yang membuat menjadi berani, aku sebut belajar" ~ kataku.
Dari kemarin topiknya tentang belajar dan belajar. Mau bagaimana lagi? Jika hendak berproses untuk sesuatu yang lebih baik haruslah mau belajar, bukan?

Menjadi seorang yang berani, bukan serta merta sebuah bakat dari yang Maha Kuasa, namun aku yakin berani adalah akumulasi kemauan kuat untuk mau mencoba lalu gagal setelah itu mencoba lagi dan setelahnya entah mencoba lagi atau dia berlatih lagi untuk tidak gagal lagi atau entah apalah itu, yang jelas dia mau bandel mencoba sampai dia tahu apa yang sudah dilakukan, dan berani untuk mencobanya lagi.

Aku dan mungkin juga kamu sering juga mengalaminya, keraguan untuk melakukan karena sudah terlalu lama duduk dan berada di zona nyaman. Alasannya, mungkin dengan keberanian sebelumnya kamu bisa meraih kenyamanan yang sekarang sudah kamu dapatkan. Lantas butuh berapa tempo lagi untuk membuat kita sadar, bahwa nyaman sebenarnya bukan corak kita supaya hidup lebih berwarna.

Tapi menurutku juga berani bukan berarti harus ikut berperang melawan penjajah modern. Atau berarti menggunakan "kekuatan fisik" untuk membela apa yang menurutnya benar. Bukan begitu juga. Tapi lebih dari banyak bertindak dari pada hanya bicara di mulut saja. Berani mengerjakan apa yang menurutnya benar, menanggung risiko atas apa yang sudah dilakukan. Namun buat apa sih? Menurutku, untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi hakmu, meraih kemerdekaanmu, menaklukkan ketakutan yang bersarang di diri kita kebebasan kita. Kebebasan yang berpihak pada kebaikan bertindak.

"I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear. ~ Nelson Mandela"

Hari Kemerdekaan identik dengan kebanggaan, kepahlawanan, haru, dan semangat keberanian yang patut kita acungkan pada semua pahlawan yang bukan saja membela negara untuk kemerdekaan, namun juga pahlawan akumulasi, yaitu pahlawan yang tak pernah lelah menyumbangkan keberaniannya untuk tidak pernah menyerah pada lelah, tidak mundur dengan cacian, dan tidak pernah kesal dengan kegagalan.

Jadi, jika ada dari kalian yang selalu berpendapat, "negara sih sudah merdeka, tapi kita tidak pernah merasakan kemerdekaan!" Hati-hati lah, mungkin kalian adalah salah satu dari orang yang belum berani, dan belum melakukan apa-apa, sehingga yang kamu rasakan hanya "rasanya" saja, bukan semangat "mengorbankan"
"Orang yang berpikiran negatif tidak akan merasakan Kemerdekaan. Orang yang mendahulukan menuntut hak daripada melaksanakan kewajiban TIDAK akan merasakan keMERDEKAan" ~ guru
Aku banyak belajar menjadi Indonesia, belajar banyak dari dirinya yang mengajariku untuk mau menjelajah pulaunya, menikmati indah pemandangannya, sepoi angin pantainya, panas terik daratannya, konflik yang mewarnainya, carut marutnya permasalahan dirinya, juga belajar mempertahankan kemerdekaannya. Tidak mudah, namun juga tidak ada yang tidak mungkin.

Dirgahayu Negeriku Indonesia. 68 bukan angka kecil bagimu, aku tahu. Namun, bertahanlah! Anak negeri di dirimu masih menyiapkan amunisinya untuk membela dan membanggakanmu. Berjuanglah bersama kami, temani dan berkibarlah di setiap semangat kami. Itu janji kami, pemuda negeri yang pasti akan selalu berani.


"We could never learn to be brave and patient, if there were only joy in the world."~ Helen Keller

~FNA


Thursday, July 18, 2013

Menyanyi Indonesia Raya - Apa Kamu Menangis?

 Hai semuaaa :D
Udah ngga se-istiqomah dulu untuk nulis nih. Sekalinya nulis, malah kasih pertanyaan deh. Sebenernya ini kejadian baru-baru aja, yang akhirnya gregetan dan maunya ditulis disini :D

Pertanyaannya, kalau ada lagu Indonesia Raya apa kamu menangis? Kalau aku, bergantung momennya. Ini nih..

Kalau aku inget-inget lagi kapan saja aku menangis saat menyanyikan lagu Indonesia Raya hmmhh,

1. Ketika jadi petugas Paskibraka di Provinsi. Nangis karena haru dan rasa bangga yang membuncah saat mengerek bendera. Apalagi momennya tepat, saat 17 Agustus :D

2. Waktu Pelatihan Pengajar Muda di Bogor. Waktu itu aku menangis sedikit (ada air mata di pelupuk mata) karena sebelumnya ada sesi mengenai Cinta Tanah Air, dan waktu itu sudah diberi tahu kalau aku akan di tempatkan di Sangihe

3. Saat menjadi guru di Sangihe. Menangis ketika menyanyikan lagu ini sambil melihat murid-muridku dapat menyanyikan lagu dengan lantang dan benar, gerakan mengerek bendera sangat rapi dan tegas. Teringat bagaimana mereka mau melatih diri mereka setiap sore di sekolah. :') *miss my students*

4. Saat acara keberangkatan Pengajar Muda, disini sepertinya terbawa suasana karena besoknya kami akan di berangkatkan ke daerah penempatan masing-masing. Ya jadi mewek pas nyanyinya :D

5. Ketika Orientasi Awal, KSM+FSM Sabang Merauke di wisma kemenkes. Fiuh, panjang menjelaskannya. Tapi ketahuilah, gimana aku ngga nangis kalau anak-anak yang dari seluruh Indonesia akan datang ke Jakarta dalam hitungan hari dimana ini akan menjadi sejarah baru bagi Indonesia. Dimana juga di depan saya ada keluarga yang sangat beragam dan dengan kerendahan hatinya mau menyatakan diri menjadi Orang tua dan Keluarga bagi ASM yang akan berkunjung ke Jakarta

6. Orientasi awal ASM. Jangan tanya kenapa saya nangis sejak dilantunkan lirik, "Indonesia Tanah Airku, tanah tumpah darahku." Di depan sudah ada generasi bangsa yang sangat hebat datang ke Jakarta untuk menyebarkan misi toleransi umat beragama

7. Orientasi akhir Sabang Merauke. Bait pertama saya lolos. Namun ketika di depan saya adalah Pak Djohan, yang dengan memejamkan mata dan khusyuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya, bukan hanya menangis namun banjir. Pak Djohan adalah salah satu FSM beragama katolik dengan ASM yang bernama Apipa dari Kalimantan beragama Islam dengan sayang dan tulus menampung dan menerima Apipa selama 2 minggu di Jakarta. *bahkan nulis paragraf ini pun saya masih merinding

Nggg, kapan lagi yaa saya nangis? hehehe. Perkaranya bukan berapa banyak aku menangis ketika lagu ini dikumandangkan, tapi lebih pada ada rasa sepertinya aku sedikit demi sedikit ikut melunasi janji negeri ini.
Ada rasa dimana dulu pejuang begitu gagah dan tegar menyanyikan lagu ini untuk menyulutkan semangat juang mereka. Mungkin ketika momen itu aku juga turut merasakan.

Semoga lebih banyak hitungan kapan aku mulai menangis ketika lagu itu mulai dikumandangkan.

Bangunlah Jiwanya
Bangunlah Badannya 
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya Merdeka-Merdeka 
Tanahku Negeriku yang ku cinta
Hiduplah Indonesia Raya 


Selamat menjalankan ibadah puasa semuanya.

Furi 

Monday, April 1, 2013

Being A Woman doesn’t Mean Must be Exclusive



Banyak yang heran, kenapa cewek mau jadi bekerja di dunia teknik? Lah, emang kenapa? Banyak yang menyangkal segala yang berhubungan dengan dunia per-teknik-an should be handle by man. Dunia teknik di mata orang-orang kebanyakan adalah pekerjaan yang berhubungan dengan dunia angkut barang berat, listrik, arus tinggi, arus lemah atau dunia yang membutuhkan ketahanan fisik. Ya, betul. Tidak memungkiri juga untuk hal yang seperti ini seorang engineer juga membutuhkan pengalaman praktis yang bisa saja merupakan hal yang dia pelajari atau dia geluti sebelumnya. Woman engineer still rare in Indonesia dengan alasana yang sepertinya kurang ku mengerti. Ya, mungkin sekarang aku tahu mengapa masih jarang. Mungkin saja karena practically mereka masih belum tahu arti engineer dan engineering, teknik atau pakar teknik itu sendiri. Well, what is engineer? Based on www.wikipedia.org 
Engineering is  the application of scientific, economic, social, and practical knowledge, in order to design, build, and maintain structures, machines, devices, systems, materials and processes. 
Then who is an engineer?
An engineer is a professional practitioner of engineering, concerned with applying scientific knowledge, mathematics and ingenuity to develop solutions for technical problems. Engineers design materials, structures, and systems while considering the limitations imposed by practicality safety and cost.
So from the statement above, it proves that everybody (either man or woman) can be an engineer right? So, why people still hesitant about woman who being engineer or afraid with scope of the work. Look, people can be engineer it is not about man must be engineer but woman shouldn’t, but it is about our integrity and our professionalism with our duty and capability. 

Ya, aku baru saja memberikan contoh mengenai apa yang mungkin kita lihat di sekitar. Yang aku alami mungkin juga apa yang kamu alami juga.
“Eh aku kan cewek, aku duluan dong”
“Eh aku kan cewek, seharusnya aku gini aku gitu dong”

Hey, bukan berarti aku tak mempercai bahwasannya Tuhan menciptakan wanita dan pria sesuai dengan kodratnya. Aku mempercayainya. Namun jangan sampai dengan adanya perbedaan itu akan membeni kamu untuk tidak mau melakakukan ini dan itu hanya karena kita adalah wanita. 

Contoh dalam pekerjaanku, ketika aku memilih untuk menjadi engineer berarti aku menyadari lingkungan kerja dan kewajiban seperti apa yang harus aku kerjakan untuk menjaga profesionalismeku. Toh, teman-teman yang lain juga sadar pekerjaan mana yang sesuai dengan kemampuan saya dan mana yang tidak. Dan pekerjaan saya untungnya hanya berhubungan dengan computer saja kok :D. Dan jangan coba-coba untuk meremehkan pekerjaan wanita :D. Pastinya lakukan pekerjaanmu karena kamu memang mencintai pekerjaanmu dan bekerjalah semampumu karena tidak mampu bukan alasan kamu tak mau mengerjakannya. Profesionalisme menuntut kita tak hanya menjadi 100% atas apa yang kita kerjakan atau lebih dari itu.  

I agree with Mahatma Gandhi said, “No culture can live, if it attempts to be exclusive.”
So being woman doesn’t mean you must be exclusive, right?

Salam senin semangat!!!
Furi

Saturday, December 15, 2012

Setelah Menjadi Guru


Apa kabarnya kamu?
Semoga selalu sehat. Aih, Desember kutinggalkan 15 hari tanpa menulis apapun. Padahal banyak banget hal yang ingin aku tuliskan.

Sebenarnya banyak, entah kutinggalkan lalu saja. Oh ya, sudah tengah bulan saja dan bulan depan adalah tahunnya 1-3 alias 13. Aku selalu merindukan tanggal itu. 1-3-13. That’s my birthday :D
Oke lanjut tentang apa yang aku tuliskan. Kemarin Ibuku telpon dan bercerita tentang kesehariannya di sekolah. Oh ya, ibuku adalah seorang guru sekolah dasar ya jelas aku bangga, karenanya juga aku benar-benar dididik selayaknya guru dan muridnya. Namun sayangnya aku baru merasakan profesinya ini amat berat ketika ada di usia 24 tahun. Keterlaluan :D
Ketika itu ibuku bercerita, ada muridnya yang terlambat datang di sekolah saat ujian semester. Dan di tengah nafasnya yang menderu ibuku menanyakan alasan keterlambatannya, karena bagi ibuku perempuan satu ini yang duduk di kelas 3 ini adalah siswi yang disipilin dan tidak pernah terlambat baik itu ke sekolah atau mengerjakan PR. Dan bagi ibuku sangat disayangkan mengapa tiba-tiba dia datang terlambat.

Ketika ibuku tanya, alasannya adalah ‘Saya harus membantu Bapak jadi kernet karena Ibu sedang sakit’
Lalu ibuku menyuruhnya masuk dan disaat ibuku memberinya soal ujian dia meminta sesuatu ke ibuku,’Bu Guru, setelah ujian Matematika, saya mau langsung ujian Bahasa Indonesia, supaya saya bisa cepat pulang’
Dalam ceritanya ibuku dan rekan gurunya sangat ibu kepada muridnya ini. Sehingga setelah ujian, dia dipersilahkan untuk meninggalkan sekolah dengan janji besok tidak boleh terlambat. Guru-guru iuran bersama untuk meringankan bebannya. 

Dulu ibuku sering menceritakan kelasnya. Apa yang menjadi kesehariannya menjadi seorang guru. Menceritakan sesuatu yang sangat inspiratif, sesuatu yang membuatku untuk tetap selalu bersyukur, ibuku mengajarkanku untuk tetap mau sekolah dan mengenyam pendidikan yang lebih baik. Dari cerita-cerita muridnya, wali kelas, kepusingannya untuk memutar otak supaya muridnya lekas lancar membaca sudah jadi makanan keseharianku selama mungkin 24 tahunku. Namun sayang baru tahun ini aku baru merasakannya.
Aku bisa merasakan hal yang sama, ketika aku dulu mengajar dengan kondisi murid-muridku tak seberuntung murid-murid ibuku. Ketika ibuku menceritakan hal yang sama aku tiba-tiba saja merefleksikan tentang apa kekhawatiran ibuku. Ingin membantu dan tetap menjaga mimpinya agar tetap masuk ke sekolah. Betapa sekolah itu begitu penting baginya. Dan menurutku itu tak semudah yang aku kira dulu. 

Pantas saja ketika setahun kemarin aku menceritakan kecemasanku akan murid-muridku ke ibuku, beliau hanya bilang,’iya, ibu sering seperti itu. Kamu sabar saja, jadi guru SD tak bisa dipaksa dan dipaksakan. Kamu yang harus tahu kondisi mereka.’

Apa semua orang di negeri ini harus mengajar supaya tahu apa esensi mengajar dan diajar?

Dan ditengah percakapan kami lewat telepon, ibuku dengan sumringah bilang, “Adek tau, waktu Ibu koreksi hasil ulangannya baik matematika maupun bahasa indonesianya, semua dapat nilai 8 dan 9. Ibu kasihan banget Dek. Dia itu pinter soalnya”

Aih, aku kangen bocah-bocahku disana. Aku rindu segala celotehnya yang selalu meriukan kelas setiap pagi. Dan sekarang aku tahu apa yang dirasakan ibuku, ketika semua dunia Indonesia membicarakan kebijakan kurikulum yang semakin tak jelas itu, beliau hanya menanggapi santai,
‘Yang tahu perkembangan murid di kelas itu gurunya. Jadi Ibu sudah tahu apa yang seharusnya Ibu lakukan. Kurikulum adalah pegangan. Tapi sejatinya peran terbesar adalah ketika guru di depan kelas.’

Di akhir percakapan kami,  ibuku hanya memberikan nasihat. Entah apa nasihatnya aku lupa. Pikiranku melayang ke bumi utara negeri ini. Berdoa semoga bocah bocah kecilku bisa tetap mengejar mimpinya.


Selamat bermalam minggu teman,
Furi.

Monday, November 26, 2012

Berinvestasi Buku


Kemarin hari Minggu saya berjanji pada diri sendiri untuk seharin istirahat di kos. Namun apa daya sahabatku, Arum menawarkan sesuatu yang menggiurkan. ‘Fur, ayo ke book fair di istora, besok terakhir.’ Tidaaaak! Aku tentu ngga bisa menolak tawaran ini. Amat disayangkan kesempatan ini disia siakan begitu saja. Berangkatlah aku dengan semangat dan tentunya melihat rogohan uang dan awing-awang financial plan bulan ini :D karena apaa? Karena aku udah beli buku sebelumnya di Times, To Kill a Mockinghird dan Dance First Think Later. Dua buku ini juga hanya satu yang sudah kelar dibaca, yang satu lagi masih separuh. Jadi aku berniat untuk sampai akhir bulan ini saja aku akan beli sekitar 2 atau 3 buku saja (yang akhirnya bisa sampe pangkat kubiknya :D)

Aku tidak suka kerumunan sebenarnya, namun kemarin siang itu lain. Banyak kerumunan yang sangat sesak ditambah aroma buku yang ada di mana-mana. Stand pertama yang aku datangi saja sudah banyak buku yang main mata kepadaku minta untuk dibeli. Setelah akhirnya ketemu dengan Arum dengan binaran senyuman karena dia bilang dia bingung, aku memutuskan untuk membeli buku The Geography of Bliss, karena setiap ke toko buku selalu tertahan membelinya karena ada stok buku yang harus aku selesaikan dulu. Sungguh tidak ada yang bisa mengalahkan ketika awut awutannya buku dibubuhi tulisan diskon 30%. Sungguh sangat menyenangkan ketika harga yang biasaya kulihat 76 ribu hanya jadi 54 ribu gitu? Hahahah, puas! 

Masih ingat tulisanku ‘Candu akan Buku’? Ya, tepat! Tetiba seluruh list buku yang ingin kubaca muncul begitu saja, dari tereliye, epicentrum 23, kompas daaaan semuanya seakan-akan meletup begitu saja. Mikir-loading pingin semuanya aku beli. Sampai Arum pun bilang, ‘Sepertinya aku akan bisnis buku, Fur.’ Lantas aku sms partner utamaku yaitu bapak, kalau aku ingin beli buku. Beliau bilang, ‘Buku apa? Bapak boleh titip?’ YESSSS!!! Akhirnya. Pencarianku tak berhenti dari situ. Ketika sampai di stand Republika, aku bertemu dengan buku sang idola, dan kalaplah saya! Ya benar-benar kalap. Tapi, dengan 4 buku aku hanya menghabiskan 140 ribu saja :D yang kalau aku itung biasanya hampir 200 ribuan gitu. Doaku ketika beli buku, ‘Semoga Allah mengganti uang investasi ini dengan yang lebih baik :D’ 

Jika aku bisa meminta adakah yang bisa menjawab dari mana asalnya diskon? Dari mana asalnya ‘sale’? itu benar benar nikmat yang menyiksa sebenarnya. Hahahha, kenapa? Dari Republika aku sampai di stand LIMMA yaitu distributor segala kamus OXFORD. Dan aku salah satu penggemar dari OXFORD. Dan dia menawarkan harga yang bikin aku ileran terus. Salah satu kamus yang aku inginkan dari dulu yang di bandrol di gramedia terakhir aku lihat harganya 200 sekian gitu. Daaaan sekarang hanya 100 ribu aja. Ngookk! Gimana aku ngga beli coba??? Beli lah (lagi)

Oke, kalian jangan hitung berapa pengeluaranku yaa, hanya fokus saja pada buku-buku yang aku beli saja. Setidaknya aku berinvestasi buku hingga tahun depan untuk menamatkan bacaanku dulu :D Sebenarnya banyak yang aku ingin beli lagi, tapi harus aku tahan karena ngga mungkin semuanya aku beli kan? Jadi cukuplah ku tahan sesaknya. Semoga ada rezeki lagi. Stand terakhir adalah stand kompas. Aku pecinta kompas korannya dan buku terbitan untuk kumpulan cerpennya. Dua hal yang aku suka dari koran kompas adalah Sudoku nya dan cerpennya. Untuk berita menurutku adalah urutan kesekian yang kubaca setelah 2 rubrik itu selesai :D

Aku membeli kumpulan cerpen kompas. Dengan harga 100 ribu. Mahal? Tidak lah. Dengan 100 ribu aku mendapatkan 5 bukunya. Yay!

Aku sempat bertanya pada Arum, ‘Rum, kalau di mall kan banyak setan di sekitaran perempuan yaa? Nah kalau di toko buku gini, setan masih ada ngga Um? Setan suka baca buku juga ngga sih?’ Pikiran liar itu muncul ketika aku sudah tak kuasa membawa buku-buku ini. Bahkan aku sama Arum sempat terpisah masing dan sekembalinya Arum sudah siap seperti emak-emak yang bawa buku banyak untuk anak-anaknya. Sedangkan aku kaya emak rempong yang kesakitan punggung. Tapi jujur, aku ngga capek. Cuma senang aja, ada kerjaan baca buku abis ini :D

Banyak istighfar deh abis keluar dari Book Fair kemarin. Hahaha. Akhirnya kami kelaparan juga, dan memutuskan untuk segera pulang dari tempat kenikmatan ini. Bagiku berinvestasi lewat buku itu menyenangkan. Contoh saja kenikmatannya adalah ketika saya beli The Geography of bliss ada orang disamping saya tiba-tiba ngerocos, ‘Beli aja Mbak, itu ceritanya bagus. Saya jadi tahu ketika bla..bla..blaa’ atau seperti ketika saya melihat buku,’Pudarnya Pesona Cleopatra’ yang kubaca waktu awal kuliah dulu, langsung ku rekomendasikan ke Arum untuk membelinya, karena menurutku itu pantas dia baca.Dan itu sangat menyenangkan, ketika aku sudah pernah membaca dan mengajak orang lain untuk mau membaca juga.

Bukan dagangan, tapi hasil buruan

Jika aku senang investasi buku dan uang :D lantas kalian suka investasi apa?
Salam Senin semangat yaaa

Furi

Monday, November 19, 2012

Sebuah Pesan untuk Menyampaikan Pesan


Suatu hari ada seseorang yang menasehati saya, ’Memandang sukses atau tidak, bahagia atau tidak bahagia atau juga sejahtera dengan tidak sejahtera itu membutuhkan kejelian untuk melihat dari berbagai macam sisi. Jika kamu sedang bermain dalam permainan kartu, pilihan mana yang paling kamu anggap puas dan peluang mana yang mendekati menang, apakah ketika kamu mendapat kartu As,atau teman kamu yang mendapat joker, atau ketika kamu mengambil kartu yang ternyata angkanya kecil?’

Saat itu saya hanya terdiam dan dengan segenap hati saya memberanikan diri untuk menjawab,

‘Semuanya bisa. Bergantung permainan apa yang sedang saya mainkan dan strategi apa yang akan saya gunakan’
‘Right answer. Jawabannya depend on. Senang atau tidak. Menang atau kalah bergantung dari mana kamu memandangnya dan bagaimana kamu melakukannya.’

Begitu pula saya memandang kesuksesan dalam hidup saya. Sukses itu ketika saya bisa menjadi berguna bagi orang lain. Saat kecil saya bercita-cita ingin jadi pemadam kebakaran. Tidak lama kemudian beralih menjadi arsitektur, setelahnya ingin jadi petugas PLN, dan seterusnya berganti terus, depend on kejadian yang menginspirasi saya saat itu. Jika sekarang ditanya ingin menjadi apa? Jelas sangat depend on juga. Namun keinginan terbesar saya adalah ingin membangun perusahaan telekomunikasi dan membangun rumah belajar dengan perpustakaan yang besar, kelas yang menyenangkan, sehingga anak Indonesia dimanapun itu bisa berinteraksi dengan teman-temannya di Indonesia dan dunia dengan berbagi kegiatan dan cerita mereka.

Dalam sebuah percakapan pula saya mengutarakan tentang mimpi saya diatas dan beliau mengatakan sesuatu yang membuatku untuk run one more mile to reach it, “Furi, to do everything you must have plan. Oh ya, not only plan but many plans and of course backup plans too. But to do your plans you must do it with action. Not only action, but hard-work-action. Projected what is next for your future. But remember! It won’t go anywhere without your action”

Mimpi dan cita-cita itu muncul ketika saya terdampar di suatu pulau di ujung utara negeri ini dimana banyak-banyak mimpi mimpi berkeliaran namun susah menyatukannya dalam satu wadah. Indonesia itu indah dengan segala kekayaan dan kekurangannya. Bagaimana bisa pulau yang seindah ini dengan anak-anak kecilnya yang sebenarnya cerdas namun tidak tahu kalau mereka hidup di Indonesia? Bagaimana bisa mereka tak mengenal teman-temannya di luar pulaunya yang sebenarnya adalah saudara se-Indonesia nya juga? Dan akhirnya, bagaimana bisa sebagian orang-orang disini yang banyak teknologi maju dengan informasi dan buku yang ada dimana-mana namun tidak tahu bahwa ada bagian dari wilayah Indonesia yang bernama Sangihe itu?

Jika kita cukup kaya dengan Indonesia, namun mengapa mimpimu hanya cukup memenuhi dirimu sendiri? Dua tahun yang lalu ketika saya menjadi mahasiswa akhir di kampus ini, jujur saja saya tidak tahu akan kemana saya akan melangkah setelahnya. Setelah mencoba untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta telekoumikasi, saya yang cukup bangga dengan gelar Sarjana Sains Terapan mencoba peruntungan lain untuk apply beasiswa master ke luar negeri yang hampir kesekian kalinya gagal walaupun akhirnya ada satu yang mau menerima saya. 

Ketika saya waktu itu berada di puncak kepuasan untuk meneruskan keinginan saya mencari ilmu lagi, ada seseorang yang saya kagumi hadir dengan penawaran yang membuat saya untuk berpikir berkali-kali apakah saya bisa melakukannya. “Saya yakin kamu akan survive ketika kamu tinggal di Singapura atau di Eropa atau di Jepang sana, tapi saya menantang kamu, apakah kamu bisa survive mempertahankan mimpimu untuk bisa mengajar di daerah pelosok di negerimu sendiri dengan segala yang kamu punya dan perbedaan kondisi yang ada di sana?”

Jawaban saya saat itu, “I bet you, I can do it”

Lagi-lagi, pandanglah sukses dari berbagai sisi. Setahun saya bersama keluarga, murid, masyarakat yang sangat madani sungguh menyenangkan. Mengajar disini bukan hanya menerangkan kepada murid untuk yang tidak bisa jadi bisa, mengajari kepada masyarakat untuk yang tidak tahu menjadi tahu, namun lebih kepada resilience dan endurance saya pribadi untuk tetap bisa survive dengan tetap menjaga diri selalu konsisten dengan pilihan yang sudah saya ambil. Belajar memimpin diri sendiri dan juga belajar menjadi bagian yang dipimpin. Dari sinilah mimpi saya tadi muncul. 

Dan dari sini juga saya tahu, bukan DEGREE saja yang dibutuhkan untuk bisa survive dalam hidup. No matter what is your degree either master, bachelor, or like me bachelor applied, I realize that the most important thing is how big your endurance and hard work to try and try more after thousand times you failed and stand up to learn then start to action again. 

Buat teman-teman sekarang, sadarilah sesuatu bahwasannya kamu akan terpandang, jika kamu berhasil ‘melakukan sesuatu.’ Saya sempat menyesal saat seusia ini, mengapa dulu saya tak menorehkan banyak prestasi yang sebenarnya saya bisa lakukan. Mengapa saya dulu tak melakukan inovasi yang sebenarnya itu sangat penting sekarang, mengapa tak berusaha merampok sebanyak banyak ilmu dosen yang sebenarnya amat berhaga. Kalian tahu, saingan kalian yang lebih pintar dan hebat juga lebih kerja keras dari kalian sangat amat banyak! Jika kalian tidak bisa menemukan KEUNIKAN dalam diri kalian, amunisi apa yang kalian siapkan untuk bersaing dengan mereka, maka kalian akan sangat mudah tersingkir dari seleksi alam ini. Mumpung, kalian masih belajar, belajarlah yang benar. Fokuskan apa yang menjadi cita-cita kalian setelah lulus. Jangan malu bertanya ke dosen, minta pertimbangan ke beliau, kalau bisa sampai beliau bosan melayani kalian. Jika kalian puas dengan apa yang kalian lakukan sekarang, berkacalah apakah kepuasan ini dinikmati untukmu? Atau orang lain juga?
Semangat jangan pernah puas ya teman. Jangan sombong dan jangan terlalu tinggi hati. Percayalah sejatinya mimpi itu muncul dari lingkungan kalian.

Salam dari ibukota untuk kalian yang seharusnya lebih luar biasa.

Furi